Tarif, Inflasi, dan Pasar Kerja Jadi Sorotan The Fed

Para pejabat Federal Reserve (The Fed) pada rapat Juli 2025 mengkhawatirkan kondisi pasar tenaga kerja dan inflasi, meskipun sebagian besar sepakat masih terlalu dini untuk menurunkan suku bunga, menurut risalah rapat yang dirilis Rabu (Kamis pagi WIB).
Ringkasan rapat menggambarkan perbedaan pendapat di antara para bankir sentral, yang memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan mereka meskipun ada keberatan dari dua gubernur The Fed yang mendukung pemotongan suku bunga.
Para pembuat kebijakan mencatat meningkatnya ancaman terhadap perekonomian yang perlu dipantau, meskipun mereka sebagian besar sepakat sikap mereka saat ini adalah langkah yang tepat.
“Para peserta umumnya menyoroti risiko bagi kedua sisi mandat ganda Komite, menekankan risiko kenaikan inflasi dan risiko penurunan ketenagakerjaan,” demikian catatan risalah rapat seperti dikutip CNBC Internasional, Kamis (21/8/2025).
Meskipun mayoritas peserta menilai risiko kenaikan inflasi sebagai risiko yang lebih besar, beberapa peserta melihat risiko penurunan ketenagakerjaan sebagai risiko yang lebih menonjol.
Gubernur Christopher Waller dan Michelle Bowman menentang keputusan untuk mempertahankan suku bunga. Mereka lebih memilih agar Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mulai menurunkan suku bunga acuannya.
Suku bunga dana federal (Fed Fund Rate/ FFR), yang menetapkan biaya yang dibebankan bank satu sama lain untuk pinjaman semalam tetapi digunakan sebagai patokan untuk suku bunga konsumen lainnya, telah ditargetkan antara 4,25%-4,5% sejak Desember 2025.
Ini adalah pertama kalinya beberapa gubernur menentang keputusan suku bunga dalam lebih dari 30 tahun.
Tarif yang diterapkan Presiden AS Donald Trump menjadi bagian utama dari diskusi tersebut.
“Mengenai risiko kenaikan inflasi, para peserta menyoroti dampak tarif yang tidak pasti dan kemungkinan ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali,” demikian isi notulen rapat. Dokumen tersebut juga mencatat masih terdapat ketidakpastian yang cukup besar mengenai waktu, besaran, dan persistensi dampak kenaikan tarif tahun ini.
Di tengah situasi politik yang semakin memanas, pertemuan tersebut menyaksikan para pejabat mengungkapkan beragam pendapat tentang arah ekonomi dan kebijakan mereka. Penilaian staf menunjukkan pertumbuhan ekonomi suam-suam kuku pada semester I-2025, meskipun tingkat pengangguran tetap rendah.
Berbagai peserta menyatakan ketidakpastian atas dampak tarif terhadap inflasi, sementara yang lain khawatir kondisi lapangan kerja mulai menunjukkan keretakan dan akan membutuhkan dorongan kebijakan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
“Para peserta mencatat bahwa Komite mungkin menghadapi dilema yang sulit jika inflasi yang tinggi terbukti lebih persisten sementara prospek pasar tenaga kerja melemah,” demikian ringkasan tersebut. Keputusan mengenai suku bunga akan bergantung pada jarak masing-masing variabel dari tujuan Komite dan potensi perbedaan cakrawala waktu di mana kesenjangan tersebut diantisipasi akan tertutup.
Pertemuan tersebut berlangsung hanya dua hari sebelum rilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang menunjukkan pertumbuhan penggajian non-pertanian (NFP) tidak hanya tetap lemah pada Juli 2025. Namun juga pertumbuhan pada Juni dan Mei 2025 jauh lebih lemah daripada yang dilaporkan sebelumnya.
Bahkan tanpa informasi tersebut, para pejabat The Fed mencatat risiko penurunan lapangan kerja telah meningkat secara signifikan seiring dengan melambatnya pertumbuhan aktivitas ekonomi dan belanja konsumen. Selain itu, beberapa data yang masuk menunjukkan melemahnya kondisi pasar tenaga kerja.
Risalah rapat dirilis dua hari sebelum acara utama The Fed minggu ini, yaitu Ketua Dewan Gubernur The Fed Jerome Powell menyampaikan pidato utamanya pada Jumat (22/8/2025) pagi waktu setempat dalam simposium tahunan bank sentral di Jackson Hole, Wyoming.
Powell diperkirakan akan menggunakan pidato tersebut untuk menunjukkan setidaknya arah jangka pendek The Fed terkait suku bunga serta pandangan jangka panjang tentang kebijakan tersebut.
Trump telah memberikan tekanan politik yang kuat kepada The Fed untuk memangkas suku bunga. Presiden Trump telah mencaci-maki Powell sebagai “bodoh”, “pecundang”, dan berbagai kecaman lainnya, sekaligus mengkritik dewan direksi.
Dengan pengunduran diri Gubernur Adriana Kugler awal bulan ini, Trump akan dapat menunjuk kandidatnya sendiri untuk mengisi posisi tersebut. Masa jabatan Powell sebagai ketua berakhir pada Mei 2026, meskipun ia dapat tetap menjabat sebagai gubernur jika ia menginginkannya hingga 2028.
Dalam perkembangan terbaru, Trump telah menuntut pengunduran diri Gubernur Lisa Cook di tengah klaim ia melakukan penipuan hipotek terkait pinjaman federal yang ia terima untuk properti di Georgia dan Michigan.
Dalam kasus kursi Powell, Gedung Putih telah mengidentifikasi 11 kandidat potensial, termasuk beberapa pejabat The Fed saat ini dan sebelumnya bersama dengan ekonom dan ahli strategi Wall Street.
Sumber : Investor.id
