Konflik Israel dan Iran, menyebabkan Harga Minyak Menguat

Harga Minyak

Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan Rabu (18/6/2025). Di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat konflik Iran-Israel yang memasuki hari keenam, serta spekulasi tentang keterlibatan langsung Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik 25 sen menjadi US$76,70 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 30 sen ke US$75,14 per barel. Meski sempat terkoreksi sekitar 2% di awal sesi, harga minyak mampu berbalik arah setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 4%.

Ketegangan geopolitik semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menolak tuntutan Presiden AS Donald Trump untuk menyerah tanpa syarat. Trump mengaku kesabarannya sudah habis, namun belum memastikan apakah AS akan bergabung dalam serangan udara Israel terhadap Iran.

“Saya mungkin akan melakukannya. Mungkin juga tidak. Tak ada yang tahu apa yang akan saya lakukan,” ujar Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih.

Trump juga mengungkapkan bahwa pihak Iran telah menghubungi untuk membuka negosiasi, bahkan menyebut kemungkinan pertemuan di Gedung Putih, namun Trump menilai itu sudah terlambat.

Sumber yang dekat dengan pembahasan internal Gedung Putih menyebut salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah bergabung dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

Analis dari Ritterbusch and Associates menilai pasar minyak masih berada dalam fase wait and see. “Konflik Israel-Iran membawa ketidakpastian besar. Harga Brent bisa melonjak ke US$83 atau justru anjlok ke US$68,” tulis mereka dalam catatan.

Keterlibatan langsung AS dikhawatirkan akan memperluas konflik dan meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.

“Ketakutan terbesar adalah penutupan Selat Hormuz. Sekitar sepertiga perdagangan minyak global lewat laut melintasi jalur sempit ini. Gangguan besar akan mendorong harga hingga US$120 per barel,” tulis analis ING.

Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC dengan produksi sekitar 3,3 juta barel per hari. Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa menegaskan bahwa Teheran akan memberikan respons tegas jika AS ikut campur secara langsung dalam serangan militer Israel.

Dari sisi makroekonomi, The Fed tetap mempertahankan suku bunga dan memperkirakan masih akan ada penurunan suku bunga sebesar 0,5% tahun ini. Namun, proyeksi pemangkasan jangka panjang diperlambat menjadi hanya 0,25% pada 2026 dan 2027 karena tekanan inflasi dari kebijakan tarif pemerintahan Trump.

Suku bunga yang lebih rendah umumnya mendukung pertumbuhan ekonomi dan mendorong permintaan minyak.

Sementara itu, data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS turun tajam sebesar 11,5 juta barel menjadi 420,9 juta barel pekan lalu, jauh lebih besar dari perkiraan analis yang hanya memperkirakan penurunan 1,8 juta barel.

Sumber: Investor.id