Lonjakan Stok AS menyebabkan Harga Minyak Jatuh 1% Lebih

Harga Minyak Mentah

Harga Minyak Jatuh 1% Lebih

Harga minyak dunia ditutup melemah lebih dari 1% pada Rabu (4/6/2025). Setelah data terbaru menunjukkan lonjakan tak terduga pada stok bensin dan solar di Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari Reuters, penambahan pasokan bahan bakar ini terjadi di tengah rencana OPEC+ untuk meningkatkan produksi, serta ketegangan perdagangan global yang membayangi prospek permintaan energi.

Harga minyak Brent jatuh 77 sen (1,2%) menjadi US$ 64,86 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 56 sen (0,9%) ke posisi US$ 62,85 per barel.

Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, persediaan bensin melonjak 5,2 juta barel, jauh di atas ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan hanya 600 ribu barel. Sementara itu, stok solar dan bahan bakar distilat naik 4,2 juta barel, juga jauh melampaui proyeksi sebesar 1 juta barel.

Sebaliknya, cadangan minyak mentah turun 4,3 juta barel, lebih besar dari perkiraan analis yang memperkirakan penurunan hanya 1 juta barel.

“Laporan ini cenderung bersifat bearish karena peningkatan signifikan pada produk olahan,” kata Giovanni Staunovo, analis dari UBS.

Staunovo menambahkan, meskipun permintaan kilang terhadap minyak mentah meningkat dan menyebabkan penurunan stok, namun peningkatan pasokan bahan bakar setelah libur Memorial Day tidak diimbangi oleh permintaan, sehingga stok membengkak.

Rencana OPEC+ untuk menambah produksi sebesar 411 ribu barel per hari (bph) pada Juli turut membebani sentimen pasar. Di sisi lain, pada Selasa sebelumnya, harga minyak sempat naik sekitar 2% ke level tertinggi dua pekan karena kekhawatiran gangguan pasokan serta ekspektasi bahwa Iran akan menolak proposal nuklir AS, yang dapat menunda pelonggaran sanksi.

Pendapatan minyak dan gas Rusia dilaporkan turun 35% pada Mei, yang berpotensi membuat Moskow enggan menyetujui penambahan produksi lebih lanjut oleh OPEC+, karena bisa menekan harga minyak lebih dalam.

Pangkas Proyeksi Ekonomi

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global, menyusul dampak dari kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump yang semakin membebani ekonomi AS dan permintaan energi global.

Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan berbicara pekan ini, tak lama setelah Trump menuduh Beijing melanggar kesepakatan soal pengurangan tarif.

Sementara itu, data terbaru dari The Fed menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi AS melambat, dan tarif impor yang lebih tinggi meningkatkan biaya produksi dan harga barang.

Geopolitik tegang

Ketegangan geopolitik juga terus meningkat. Presiden Rusia Vladimir Putin menuntut Presiden Trump merespons serangan drone Ukraina terhadap fasilitas militer strategis Rusia, termasuk serangan mematikan di jembatan yang diklaim sebagai aksi Kyiv.

Analis dari Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan, secara keseluruhan, potensi kenaikan harga minyak cukup terbatas mengingat kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan dan pertumbuhan permintaan yang mulai melambat.

Di sisi lain, operasi produksi minyak di Kanada mulai kembali normal setelah sempat terhenti akibat kebakaran hutan. Perusahaan Canadian Natural Resources menyatakan telah memulai kembali operasi di situs Jackfish 1 di Alberta setelah kondisi dinyatakan aman. Kebakaran tersebut sempat memangkas produksi Kanada hingga 344 ribu bph.

 

sumber : investor.id