Harga Minyak Turun karena Lonjakan Kasus Positif Covid-19 di seluruh Dunia

Harga minya turun pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Harga minyak turun dari level tertinggi dalam 11 bulan yang telah disentuh pada perdagangan pekan lalu.
Kenaikan harga minyak pada pekan lalu terjadi karena pengurangan produksi dan permintaan dari China yang kuat. Namun hal tersebut terhentikan karena jumlah yang terinvesi virus Corona Covide-19 terus meningkat.
Mengutip CNBC, Selasa (19/1/2021), harga minyak mentah Brent turun 30 sen atau 0,5 persen menjadi USD 54,79 per barel pada 06.22 GMT, setelah turun 2,3 persen pada hari Jumat. Sedangkan harga minyak AS turun 21 sen, atau 0,4 persen menjadi USD 52,15 per barel, setelah turun 2,3 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Kedua harga minyak yang menjadi patokan harga dunia telah menguat dalam beberapa pekan terakhir, didukung oleh dimulainya peluncuran vaksin Covid-19 dan pemotongan mengejutkan dari produksi minyak mentah oleh eksportir minyak terbesar dunia, Arab Saudi.
Namun, infeksi baru yang melonjak di seluruh dunia telah menimbulkan keraguan tentang berapa lama permintaan akan bertahan.
“Relative Strength Indexes (RSI’s) pada kedua kontrak berada di wilayah overbought, menunjukkan koreksi sedang dalam perjalanan,” kata analis senior OANDA, Jeffrey Halley.
Meningkatnya aktivitas sumur minyak yang di AS menambahkan tekanan lebih lanjut kepada harga minyak. Jumlah sumur minyak dan gas alam untuk memulai kembali aktivitasnya selama delapan minggu berturut-turut karena kenaikan harga telah membuat produksi lebih menguntungkan.
Namun, jumlah rig yang beroperasi kurang dari setengah dari level tahun lalu.
“Namun, bertambahnya jumlah sumur minyak yang aktif tersebut tidak terlalu disukai, dengan setengah dari industri masih tidak ekonomis.” tulis ANZ dalam risetnya.
Sumber : www.liputan6.com
